Postingan ini terinspirasi dari blog freakonomics, di sana ditanyakan pertanyaan berikut:
What is the most addictive thing on earth?
Sesuatu apakah di dunia ini yang paling bikin kecanduan? Tapi sebelum anda menduga-duga jawabannya, saya kasih sedikit latar belakang pertanyaan ini. Jadi pada suatu ketika si empunya blog itu di tanyai seperti itu oleh Gary Becker, Gary Becker sendiri adalah pemenang nobel ekonomi tahun 1992 dan dia pernah mencetuskan teori yang disebut rational addiction. Dari sini mungkin sudah ada sedikit gambaran, kalau kalian menduga jawabannya adalah kopi, rokok, dsb, mungkin akan berpikir ulang. Bukan salah sih, cuman seorang Gary Backer kemungkinan besar tidak akan menanyakan pertanyaan terbuka yang jawabannya terlalu eksplisit kan?
Sebelum aku kasih jawabannya, aku akan sedikit mereview artikel di blog aslinya. Pertama, yang nulis blog freakonomic itu memberikan terlebih dahulu karakteristik dari addictive thing (penulis blognya bukan Gary Becker lo). Jadi, menurut dia kira-kira karakteristik dari sesuatu yang bisa disebut “addictive thing” sebagai berikut:
1. Sekali kita mengkonsumsinya, kita akan menjadi ingin mengkonsumsinya lagi dan lagi.
2. Seiring berjalannya waktu, kita akan semakin toleran dengan hal itu, misalnya: lama-lama kita “mungkin” akan menganggap hal itu sebagai suatu hal yang wajar bagi diri kita, walau mungkin orang lain nganggep itu sebagai penyakit.
3. Keinginan untuk mendapatkan “that thing” kadang-kadang menyebabkan kita mengorbankan hal-hal lain, bahkan bisa jadi sampai kita melakukan tindakan-tindakan konyol dan gila.
4. Setiap saat kita mencoba berhenti untuk mengkonsumsi “that thing”, maka akan ada suatu periode dimana ada keinginan untuk kembali lagi.
Secara garis besar dia nulis gitu (kalo nggak puas dengan versi Indonesiaku, silakan liat di blog asline, maklum inggrisku parah :P). Oke, sekarang dari kriteria-kriteria di atas, kayaknya hal-hal seperti rokok, kopi, dll bisa dimasukkan sebagai sesuatu yang addictive. Tapi, menurut Gary Becker ada hal yang lebih addictive dari itu semua, yaitu: people.
Ya, jawabannya adalah “People”. lalu menurut jawaban itu, di blog freakonomic ditetapkan ada tiga orang pengkomentar yang dianggap memberikan jawaban benar.
Yang pertama menjawab: “Other people”,
yang kedua menjawab: “Society or human companionship”,
yang ketiga menjawab: “Love”.
Untuk analisis dia, silakan langsung dibaca di blog freakonomics.
Sekarang permasalahannya aku kurang begitu paham setuju dengan jawaban di atas (walaupun penjelasan di blog nya masuk akal juga sih), oleh karena itu aku coba tanyakan pada temenku yang kebetulan lulusan psikologi. Pertanyaan yang persis sama dan ternyata pada kesempatan pertama temenku langsung jawab:“Love”,
agak terkejut juga sih (aku pastikan dia belum pernah baca blog freakonomics sebelumnya), lalu aku balik nanya: “nice..good answer..but why?”,
dan selanjutnya percakapan berubah menjadi seperti kuliah, dimana dia sebagai dosennya dan aku sebagai mahasiswa yang berada di kelas psikologi (mentang-mentang lulusan psikologi :P, but nice leture anyway
).
Jadi hasil kuliahnya secara ringkas kira-kira begini:
Pertama yang dimaksud “Love” oleh dia, bukan sekedar cinta, tapi kasih sayang secara general. Alasan sederhananya kenapa jawabannya bisa “Love” karena itu dasarnya orang hidup, jadi dalam keinginan bawah sadar manusia pasti menginginkan “Love”, siapapun manusia itu.
Sekarang kita mulai penjelasan “panjang lebarnya” (jangan lupa sediakan kopi dan snack supaya tidak ketiduran di tengah pembahasan :P):
Manusia itu mempunyai kebutuhan2 dasar. Kebutuhan2 itu bentuknya piramida (dari bawah besar, lalu ke atas semakin mengecil), kalo enggak salah namanya teori kebutuhan Maslow. Kebutuhan2 itu terpenuhinya dari bawah (dari yang paling besar ke yang paling kecil), kita dapat naik memenuhi kebutuhan diatasnya kalau kebutuhan yang dibawah sudah terpenuhi. Berikut urutannya dari besar ke kecil:
1. Kebutuhan fisik..pangan,sandang,papan.
2. Kebutuhan akan keamanan.
3. Kebutuhan akan cinta..“love”, kasih sayang.
4. Kebutuhan akan harga diri..penghargaan.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri..prestasi.
Nah, dari sini mungkin teori Maslow benar, tapi sebenarnya kebutuhan 1 dan 2 itu yang bikin kekacauan dalam hidup. Gambarannya gini, kalau kebutuhan 1 belum terpenuhi, orang akan berusaha melakukan bermacam-macam cara untuk memenuhinya, termasuk berbuat kejahatan. Dari sini, kebutuhan 2 bakal tidak tercapai juga, la gimana mau aman, kalo kejahatan dimana-mana.
Sekarang kalo kita terlepas dari teori kebutuhan itu, ada satu faktor lagi yaitu religiusitas (agama), ada aturan-aturan agama yang bisa membalik teori kebutuhan itu. Mungkin tidak membalik sepenuhnya, tapi coba perhatikan ini, semua agama kan mengajarkan kasih-sayang, mengasihi dan ada larangan untuk berbuat kejahatan. Jadi misalkan ada orang yang hidup sangat miskin, tapi masih mempunyai nilai-nilai religi dalam dirinya (kebutuhan spiritual tercukupi) dia tidak akan berbuat kejahatan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, walau secara logika memang sulit. Sekarang bayangkan jika setiap manusia bisa mempunyai nilai-nilai religi (kebutuhan spiritual), maka yang terjadi adalah dunia dimana setiap orang memiliki kasih sayang, seorang pribadi tidak akan egois, dia akan memikirkan orang lain, sebagai akibatnya tidak ada orang yang menderita karena miskin, sebab si kaya akan selalu ada untuk menolongnya, ya meskipun hanya makan sehari-hari.
Jika ini sudah terjadi maka teori Maslow itu baru bisa terpenuhi, sebab orang yang berusaha memenuhi kebutuhannya tanpa dilandaskan “love” (kasih sayang), walau mungkin bisa terpenuhi semua piramidanya, tapi yakinlah suatu saat semua piramidanya itu akan runtuh, sebab dari awal (pemenuhan kebutuhan 1 dan 2) sudah bikin kacau, jadi piramidanya tidak kokoh.
Sampai di sini kemudian aku sok memberikan feed back, dan dengan bego nya berkata:
“Oke, penjelasan menarik, tapi kan pertanyaannya hal yang paling adiktif?”
Ternyata penjelasannya seperti ini, kembali ke pengertian addictive di awal, secara sederhana, suatu hal bisa dikatakan adiktif ketika kita sudah sekali “mencobanya” maka ada keinginan untuk terus “mencoba” lagi, sampai pada tingkatan adiktif yang paling parah adalah saat dimana kita tidak bisa berhenti mengkonsumsi that thing. Nah, sesuatu apakah yang tidak pernah bisa berhenti dikonsumsi oleh manusia selain kebutuhan dasarnya. Karena menurut temanku kebutuhan dasar setiap manusia adalah “love” maka hal yang paling adiktif di dunia adalah “love”.
Oke, begitu ringkasan kuliahnya..sekarang kita akan memulai bagian yang paling nggak penting dari blog ini yaitu pendapat pribadiku :P. Dari penjelasan dia aku sedikit paham sih, bahwa mungkin sebenarnya manusia memang butuh kasih sayang (mengasihi kepada sesama). Tapi sekarang coba bayangin kalo kasusnya gini, ada seorang yang kecanduan narkoba (katakanlah sudah sampe tingkat yang paling parah), lalu kita berkata pada orang itu, “hey, kamu tau enggak,kalo sebenarnya people/“love” lebih bikin kecanduan?”, kira2 jawaban apa yang bakal kita terima?(bayangin sendiri ya :P).
Tapi kasusnya belum berakhir, misalnya orang itu di rumah punya anak, apakah kalian pikir dia bakal suruh anaknya nyobain drugs, jika dia dalam keadaan sadar aku pikir itu suatu hal yang tidak mungkin, dalam keadaan sadar aku yakin orang itu tahu bahwa kondisi dia mungkin seperti “perang” dengan dirinya sendiri, mungkin dia tidak bisa memenangkan “perang” itu tapi dia tidak ingin orang lain terlibat terutama orang-orang yang di”cintai” nya. Trus hubungan paragraf ini sama keseluruhan postingan ini apa??silakan diinterpretasikan sendiri :P.
Jika kalian masih membaca sampai baris ini aku mengucapkan selamat dan terima kasih, karena sudi membaca racauanku sampai selesai :P. Yah, pada akhirnya mungkin kita tidak pernah bisa menyamakan kadar tingkat kecanduan untuk semua orang. Tapi karena orang tidak akan pernah bisa terlepas dari kebutuhan dasarnya, maka menurut pendapatku hal yang paling bikin kecanduan di dunia ini adalah kebutuhan dasar manusia, dan aku yakin itu bisa berbeda-beda untuk setiap orang.